Rabu, 21 November 2018

Janji dan Ancaman Allah SWT


(QS al-Buruj [85]: 11-16).
Dalam ayat sebelumnya diberitakan tentang siksa yang akan diterima oleh orang-orang yang menimpakan fitnah kepada kaum Mukmin. Jika tidak bertobat, mereka akan mendapatkan siksa Neraka Jahanam selain menerima siksa pembakaran. Itu adalah balasan mengerikan bagi siapa pun yang melakukan tindakan jahat seperti yang dilakukan oleh ash-hab al-ukhdûd.
Kemudian dalam ayat ini disebutkan berita gembira bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Mereka diberi balasan yang membahagiakan. Mereka diberi surga, tempat tinggal di akhirat yang dipenuhi dengan aneka ragam kenikmatan.
Tafsir Ayat
Allah SWT berfirman: Inna al-ladzîna مmanû wa ‘amilû al-shمlihمt lahum jannat tajrî min tahtihم al-anhمr (Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai). Ayat ini memberitakan tentang balasan yang akan diterima orang-orang yang memiliki dua sifat sekaligus. Pertama: مmanû (orang-orang yang beriman). Diterangkan al-Qurthubi, mereka adalah orang-orang yang mengimani serta membenarkan Allah SWT dan rasul-rasul-Nya.1 Dengan kata lain, mengimani semua perkara yang diperintahkan utuk diimani sekaligus mengingkari semua perkara yang diperintahkan untuk diingkari.
Kedua: ‘amilû al-shâlihât (mengerjakan amal-amal shalih). Artinya, mereka mengerjakan ketaatan kepada Allah, melakukan perintah-Nya, dan meninggalkan larangan-Nya.2 Dengan kata lain, mereka tunduk dan patuh terhadap seluruh hukum yang disyariahkan Allah SWT.
Ayat ini bersifat umum, mencakup semua orang yang memiliki dua sifat tersebut dalam dirinya. Termasuk dalam cakupannya adalah kaum Mukmin yang dilemparkan ke dalam parit berapi.3
Mereka diberi balasan jannah (surga) yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Dikatakan al-Qurthubi, di bawah surga itu mengalir sungai-sungai yang airnya tidak berubah warna, rasa, dan baunya; susu yang tidak berubah rasanya; khamr yang lezat bagi orang-orang yang meminumnya; dan sungai-sungai madu yang dijernihkan.4 Penjelasan tersebut didasarkan pada ayat-ayat lain yang menceritakan berbagai jenis sungai di surga (lihat: QS Muhammad [47]: 15).
Kemudian disebutkan: Dzمlika al-fawz al-kabîr (Itulah keberuntungan yang besar). Kata dzâlika (ism al-isyârah, kata penujuk) menunjuk pada apa yang dijanjikan Allah SWT kepada mereka. Ditegaskan bahwa itu semua merupakan al-fawz al-kabîr. Secara bahasa, al-fawz berarti an-najâh min asy-syarr wa azh-zhafar bi al-khayr (selamat dari keburukan dan berhasil mendapatkan kebaikan).5 Faktanya, itulah yang mereka dapatkan. Mereka selamat dari siksa neraka dan memperoleh kenikmatan surga. Kebruntungan itu pun disifati dengan kata kabîr. Menurut al-Qurthubi, kata tersebut berarti ‘azhîm (besar), Dikatakan demikian karena memang tidak ada kemenangan yang menyamainya.6
Kemudian Allah SWT berfirman: Inna batsya Rabbika lasyadîd (Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras). Kata al-bathsy berarti al-akhdz bu quwwah wa syir’ah (hukuman dengan kuat dan cepat);7 bisa juga bermakna al-akhdz bi ‘unf[in] (hukuman dengan keras). Jika disifati dengan asy-syiddah (keras) maka hukuman tersebut dilipatgandakan dan ditingkatkan.8 Siksaan-Nya yang amat keras itu ditimpakan kepada orang yang zalim. Dikatakan oleh Ibnu Abbas, “Sesungguhnya hukuman orang zalim itu sangat keras.9 (Lihat juga: QS Hud [11]: 102).
Selanjutnya disebutkan beberapa sifat-Nya. Allah SWT berfirman: Innahu huwa yubdi‘u wa yu’îd (Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan [makhluk] dari permulaan dan menghidupkannya [kembali]). Menurut Ibu Zaid dan adh-Dhahhak , ayat ini artinya: Dia memulai dengan menciptakan makhluk dan mengembalikannya dengan membangkitkan.10
Al-Khazin juga berkata, “Dia menciptakan makhluk pertama kali di dunia, kemudian Dia mengembalikan mereka untuk hidup kembali setelah kematian untuk membalas amal mereka pada hari Kiamat.”11
Penafsiran senada juga dikemukakan oleh asy-Syaukani, Ibnu Juzyi al-Kalbi, al-Alusi dan al-Baghawi.12 Bahkan menurut asy-Syaukani, penafsiran tersebut merupakan pendapat jumhur.13
Ayat ini juga memberikan penegasan bahwa semua penciptaan itu dilakukan Allah SWT sendiri, tanpa bantuan selain Dia. Ini ditunjukkan dengan kata huwa (Dia) pada ayat ini. Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Dia sendiri yang memulai ciptaan-Nya dan mengembalikannya; tidak ada yang bersekutu dengan-Nya dalam perkara tersebut.”14
Setelah disebutkan tentang azab-Nya yang amat keras, kemudian diberitakan sifat Allah SWT lainnya: Wahuwa al-Ghafûr al-Wadûd (Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih). Kata al-ghafûr merupakan bentuk mubâlaghah dari al-ghâfir (yang mengampuni). Menurut Abu Hayyan, ghafûr berarti menutupi dosa-dosa hamba-hamba-Nya.15 Dikatakan Ibnu Katsir, mengampuni dosa orang yang bertobat dan tunduk kepada-Nya.16
Adapun wadûd bermakna lembut dan berbuat kepada mereka. Kata al-wadûd merupakan bentuk mubâlagah dari kata al-wâdd (yang mencintai).17 Artinya, amat mencintai orang-orang yang taat. Kecintaan Allah SWT, menurut ulama khalaf, adalah pemberian kenikmatan dan kemuliaan. Dari sini maka al-Wadûd ditafsirkan dengan: banyak berbuat baik.18
Diterangkan Abdurrahman as-Sa’di, kata al-wadûd di sini bermakna: Dia mencintai para kekasih-Nya dengan kecintaan yang tidak disamai oleh apa pun; sebagaimana Dia tidak disamai oleh apa pun dalam sifat keagungan dan keindahan, makna dan perbuatan.19
Kemudian disebutkan sifat-Nya yang lain: Dzû al-Arsyi al-Majîd (Pemilik ‘Arasy lagi Mahamulia). Kata al-‘arsy merupakan kata musytarak yang digunakan untuk menyatakan beberapa makna. Dikatakan al-Jauhari dan lainnya, al-‘arsy adalah sarîr al-malik (singgasana raja); bisa juga bermakna saqf al-bayt (atap rumah). Makna lainnya adalah al-mulk wa as-sulthân (kerajaan dan kekuasaan).20
Kalimat Dzû, Mâlikuhu wa Khâliquhu (Pemilik dan Penciptaan).21Dikhususkan al-‘arsy dengan disandarkan kepada Diri-Nya berguna untuk tasyrîf[an] (memuliakan) ‘arsy dan mengagungkannya, bahwa ‘arsy merupakan makhluk yang paling agung.22
Adapun al-Majîd bermakna al-‘Azhîm pada Zat dan Sifat-Nya.23 Terdapat perbedaan pendapat, apakah katatersebut merupakan sifat bagi lafzh al-Jalâh atau sifat bagi al-‘arsy. Menurut kebanyakan mufassir dan al-qurrâ`, kalimat tersebut adalah sifat bagi lafzh al-Jalâh sehingga dibaca raf’u. Alasannya, al-Majid merupakan sifat yang tinggi dan mulia, sehingga tidak layak kecuali pada Allah SWT.24
Berikutnya Allah SWT berfirman: Fa”âl[un] limâ yurîdu (Mahakuasa berbuat apa saja yang Dia kehendaki).Dikatakan Ibnu Katsir, “Apa pun yang Dia kehendaki, tidak ada yang membantah hukum-Nya, tidak ditanya apa yang Dia kerjakan karena keagungan-Nya.”
Menurut al-Qasimi ayat ini juga berarti, “Tidaklah Dia menghendaki sesuatu kecuali Dia kerjakan. Tidak ada yang membatasi Dia dengan kehendak-Nya. Karena itu kapan pun Dia menghendaki untuk membinasakan kaum yang ingkar dan memberikan pertolongan kepada orang yang mukhlis, Dia kerjakan. Sebab, Dialah Pemilik kerajaan langt dan bumi.”25
Janji dan Ancaman
Ada beberapa pelajaran penting yang dapat diambil dati ayat-ayat ini. Pertama: janji Allah SWT terhadap orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Dalam ayat ini diberitakan dengan jelas bahwa mereka akan diberi balasan surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Siapa pun yang mendapatkannya, berarti telah memperoleh kemenangan besar. Banyak ayat memberitakan tentang hal ini.
Bisa jadi di dunia mereka tampak menderita karena harus bersabar dan istiqamah memegang keimanan seperti halnya kaum Mukmin yang dilemparkan ke dalam parit berapi. Bisa juga mereka terlihat susah-payah lantaran memikul beban berat dalam menjalankan syariah. Akan tetapi, semua itu akan sirna di akhirat kelak. Segala penderitaan dan susah-payah akan lenyap tak bersisa, berganti dengan kesenangan dan kebahagiaan. Mereka akan diselamatkan dari siksa neraka yang amat dahsyat. Lebih dari itu, mereka akan diberi kenikmatan tiada tara, yakni surga.
Kedua: dahsyatnya siksa Allah SWT. Siksaan yang dahsyat dan amat keras itu akan ditimpakan kepada manusia yang ingkar dan membangkang kepada perintah dan larangan-Nya. Selain ayat ini, kerasnya siksa Allah SWT juga diberitakan dalam banyak ayat (lihat, misalnya: QS al-Baqarah [2]: 196).
Siksa-Nya yang amat dahsyat itu sebagian telah ditunjukkan kepada kaum kafir pembangkang seperti kaum Tsamud, kaum ‘Ad, Fir’aun dan bala tetaranya, kaum Luth, dan lain-lain. Siapa pun yang menyaksikan atau membaca berita peristiwa itu dapat menyimpulkan betapa keras dan dahsyatnya siksa Allah. Padahal semua siksa itu masih lebih ringan dibandingkan dengan siksa-Nya di akhirat (lihat: QS al-Zumar [39]: 26).
Ketiga: Besarnya kecintaan Allah SWT kepada hamba-Nya. Dalam ayat ini disebutkan dua sifat yang menunjukkan hal itu, yakni al-Ghafûr dan al-Wadûd. Selain nabi dan rasul, manusia tidak terpelihara dari dosa. Mereka bisa terpeleset, bahkan terjerumus dalam perbuatan dosa dan maksiat. Mereka yang terlanjur melakukan demikian, tidak boleh putus harapan. Sebab, Allah al-Ghafûr, Maha Pengampun. Mereka harus segera bertobat dan minta ampun kepada-Nya. Allah SWT berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
(QS az-Zumar [39]: 53).
Keempat: kekuasaan Allah SWT. Ayat ini menegaskan bahwa Dialah Sang Pemilik ‘Arsy. Dialah Pemilik kerajaan langit dan bumi. Selain dalam ayat ini juga diberitakan dalam banyak ayat seperti QS at-Taubah [9]: 129, al-Anbiya’ [21]: 22, al-Mukminun [23]: 86 dan 116, an-Naml [27]: 26, az-Zukhruf [42]: 82, dan lain-lain.
Sebagai Penguasa tunggal di alam semesta, tidak ada satu pun yang bisa menghalangi dan mencegah kehendak-Nya. Dialah Pemilik otoritas tunggal dalam membuat hukum bagi seluruh penduduk di kerajaan-Nya. Apa pun perintah dan larangan-Nya, wajib ditaati. Semuanya wajib tunduk dan patuh kepada Allah SWT.
Sebagai Pemilik kerajaan langit dan bumi, Dia bisa melakukan apa saja, tanpa ada satu pun yang bisa menghalanginya. Termasuk ketika hendak menghukum orang-orang dengan gaya hidup zalim, maupun ketika memberikan balasan kebaikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih.
Sungguh aneh mereka yang berani menentang dan membangkang terhadap perintah-Nya. Dengan kekuatan apa mereka berani melawan Sang Pemilik kerajaan langit dan bumi?
WalLâh a’lam bi ash-shawâb.
Catatan kaki:
1 al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 19 (Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1964), 295
2 al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fîTa‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24 (tt: Muassasah al-Risalah, 2000), 346
3 Abu Hayyan al-Andalusi, vol. 10 (Beirut: Dar al-Fikr, 1420 H), 445
4 al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, vol. 19, 295
5 al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 15 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Limiyyah, 1995), 301
6 al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, vol. 19, 295
7 Ibnu ‘Athiyah, al-Muharrar al-Wajîz, vol. 5 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2001), 462; Ibnu Juzyi al-Kalbi, al-Tas-hîl li ‘Ulûm al-Tanzîl, vol. 2 (Beirut: Dar al-Arqam, 1996), 470
8 al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol. 31 (Beirut: Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, 1420 H), 114; al-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5, 501
9 al-Khazin, Lubîb al-Ta‘wîl fî Ma’ânî al-Tanzîl, vol. 4 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995), 414; al-Baghawi, Ma’âlim al-Tanzîl, vol. 5 (Beirut: Dar Ihya‘ al-Turats al-‘Arabi, 1420 H), 237.
10 Ibnu ‘Athiyah, al-Muharrar al-Wajîz, vol. 5, 462; Abu Hayyan al-Andalusi, vol. 10, 445
11 al-Khazin, Lubîb al-Ta‘wîl fî Ma’ânî al-Tanzîl, vol. 4, 414
12 al-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5, 501; Ibnu Juzyi al-Kalbi, al-Tas-hîl li ‘Ulûm al-Tanzîl, vol. 2, 470; al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 15, 301; al-Baghawi, Ma’âlim al-Tanzîl, vol. 5, 237
13 al-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5, 501
14 al-Sa’di, Taysîr al-Karîm al-Rahmân fî Tafsîr Kalâm al-Mannân (tt: Muassasah al-Risalah, 2000), 918
15 Abu Hayyan al-Andalusi, vol. 10, 446
16 Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1999), 366
17 Abu Hayyan al-Andalusi, vol. 10, 446
18 Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol.. 8, 366
19 al-Sa’di, Taysîr al-Karîm al-Rahmân, 918
20 al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 7, 220
21 al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 15, 302
22 Abu Hayyan al-Andalusi, vol. 10, 446
23 al-Baidhawi, Anwâr al-Tanzîl wa Asrâr al-Ta‘wîl, vol. 5 (Beirut: Dar Ihya‘ Ihya’ al-Turats al-‘Arabiy, 1998), 301
24 al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol. 31, 114
25 al-Qasimi, Mahâsin al-Ta‘wîl, vol. 9, 446

Tidak ada komentar:

Posting Komentar